PERUBAHAN PARADIGMA AUDITOR INTERNAL

Oleh: Rani Kharisma Haq, SA.,MA

Keberhasilan pada penyajian dan penyerapan sumber daya terjadi karena ditunjang dengan kualitas pendidik, layanan umum dan administrasi, sarana dan prasarana, serta infrastruktur pendukung lainnya. Segala upaya dilakukan demi tercapainya tujuan tersebut. Mengembangkan sumber daya manusia, membangun sarana dan prasarana serta infrastruktur, menangani dan mengevaluasi berbagai masalah atau hal buruk yang mungkin terjadi. Atas dasar itu maka diperlukan adanya pengawasan dan pemeriksaan pada setiap langkap kegiatan dalam manajemen yaitu mulai dari tahap perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leadership) sampai dengan pengendalian (controlling). Selain itu, perlu juga diperhatikan pada aspek kebijakan dan prosedur yang dilaksanakan oleh setiap unit-unit dari Perguruan Tinggi.

Diperlukan adanya sebuat tim ata sekelompok staf dari yang bertuga untuk melakukan kegiatan pemeriksaan, pengawasan, dan memberikan saran perbaikan bila diperlukan (rekomendasi).  Audit Internal merupakan suatu fungsi penilaian independen dalam sebuah organisasi yang bertujuan untuk menguji dan mengevaluasi dari semua kegiatan-kegiatan yang dilakukan organisasi tersebut, sehingga manajemen puncak dapat memiliki sumber informasi dari setiap unit yang dimilikinya. Untuk itu pemeriksa internal atau audit internal akan melakukan analisis, penilaian dan memberi rekomendasi serta saran-saran (Tugiman, 1997: 5). Auditor internal pada sebuah universitas merupakan unsur penting dengan segala fungsinya untuk membantu mewujudkan Good University Governance (GUG). Auditor internal yang independen memiliki peran penting untuk membantu organisasi melakukan peningkatan dan evaluasi terhadap efektivitas proses pengelolaan risiko perusahaan

Sebelumnya, paradigma yang berkembang di masyarakat peran auditor internal dimaknai secara konvensional yaitu sebagai watchdog (Mauliddyah et al., 2017). American Heritage mendefinisikan seorang auditor watchdog (pengawasan) sebagai “orang yang berfungsi sebagai penjaga (guardian) atau pelindung (protector) terhadap pemborosan (waste), kerugian (loss), atau praktik ilegal (illegal practices)”. Watchdogs bertujuan untuk menjaga dan melindungi organisasi dari kerugian (loss) dan penyalahgunaan. Tugas utama auditor adalah menverifikasi pembukuan klien daripada mendeteksi. Selama masa audit, jika auditor menemukan sesuatu yang mencurigakan, maka seorang auditor harus memperluas prosedur auditnya untuk memeriksa masalah tersebut secara rinci dan harus mengkomunikasikan hal yang sama kepada auditi  (pihak yang diaudit). Namun, jika tidak ada hal yang mencurigakan, maka dianggap seluruh proses baik operasional maupun administrasi pada organisasi dapat dibenarkan. Selain itu, auditor dapat mengandalkan representasi yang dibuat oleh staf dan manajemen dalam organisiasi. Pada hal penipuan (fraud) dan kesalahan (error), auditor cukup berhati-hati saja.

Terdapat satu paradigma lagi yang digunakan sebelumnya, di mana sudah tidak digunakan lagi yaitu auditor sebagai bloodhound. Auditor bertindak lebih waspada terhadap segala kegiatan dalam lingkungan organisasi, bertindak berdasarkan perilaku atau aktivitas yang mencurigakan dan kemungkinan terjadi kecurangan (fraud). Pada sebuah analogi, bloodhound adalah seorang anjing pelacak yang terpaku pada aroma binatang dan mengikuti jejaknya melalui air, hujan, hujan es, dan salju sampai mereka mendeteksi binatang untuk melihat kondisi sebenarnya. Jelas, pendekatan ini akan menghasilkan biaya tambahan (added cost), waktu tambahan, dan masalah manajemen hubungan karena bisa jadi auditi beranggapan bahwa proses kegiatan audit tidak perlu dilakukan, mengganggu operasional, dan menghabiskan banyak biaya percuma.

Atas kedua paradigma tersebut, pada saat ini paradigma tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi dalam proses kerja dan lingkungan organisasi. Hal ini melihat dengan terus berkembangnya kebutuhan organisasi yang tidak hanya diberi koreksi dan perbaikan pada kinerja dan operasional, melainkan juga perlu adanya pendampingan untuk menuju keberhasilan visi misi organisasi, mempecepat penyelesaian suatu masalah, dan adanya peran konsultasi untuk membantu tiap unit dalam organisasi apabila terjadi kendala, bias, dan ketidaktahuan unit pada sebuah peraturan. Artinya auditor internal khususnya di Universitas Airlangga tidak lagi menonjolkan pada sebuah tindak korektif (penyelesaian) terhadap suatu kejadian, di mana masalah sudah terjadi lebih dulu lalu baru diberi penanganan. Namun, kami berfokus terhadap adanya tindakan preventif (pencegahan) untuk mencegah kemungkinan buruk, dari segi kecurangan, kesalahan, ketidaktahuan, dan kegagalan dalam mencapai tujuan organisasi.

 Pergeseran paradigma audit internal ditandai dengan perubahan orientasi dan peran profesi internal auditor. Dimulai pada abadi 21 internal auditor lebih berorientasi untuk memberikan kepuasan kepada jajaran manajemen (dalam hal ini adalah universitas) (Rahayu & Rahayu, 2016). Perlu dilakukan transformasi pada perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi, dan sebagainya). Transformasi Auditor Internal dibutuhkan karena beberapa hal:

  • Organisasi tidak dapat menjalankan tugas dan fungsi dengan optimal;
  • Tantangan tugas baru;
  • Persaingan yang ketat;
  • Perkembangan teknologi;
  • Ekspektasi stakeholders

Berikut uraian perbandingan transformasi paradigma lama dan paradigma baru pada peran audit internal yang bertujuan untuk terus mengembangkan organisasi menuju tingkat lebih tinggi:

URAIAN PARADIGMA LAMA PARADIGMA BARU
Peran Watchdog Konsultan & katalis
Pendekatan Detektif Preventif
Sikap Seperti polisi Sebagai mitra (pendampingan)
Kepatuhan Semua kebijakan Hanya kebijakan yang relevan
Fokus Kelemahan/penyimpangan Peneyelesaian yang konstruktif
Komunikasi dg manajemen Terbatas Reguler
Audit Finansial, compliance audit Finansial, compliance, operasional audit
Jenjang karir Sempit (hanya auditor) Berkembang luas (pada bagian/fungsi lain)

Sumber : Rahayu,dkk (2018)

Dewasa ini peran dan fungsi auditor internal dalam organisasi adalah sebagai agent of change atau yang disebut katalisator dan sebagai konsultan. Hal ini bertujuan agar auditor internal diharapkan mampu memberi nilai tambah perusahaan dalam jangka panjang. Auditor internal sebagai konsultan terlihat melalui pemberian fasilitas konsultasi demi peningkatan nilai tambah organisasi dan kelancaran pelaksanaan GUG. Menjadi konsultan independen, auditor berperan dalam mencegah kecurangan,  memberi kepastian serta jaminan bahwa alokasi sumber daya perusahaan sudah memenuhi syarat efektif, efisien, dan ekonomis (3E).

Selanjutnya, adalah peran auditor internal sebagai katalisator atau agent of change. Auditor internal bertugas untuk memberi motivasi guna menggerakkan dan mengarahkan aeluruh bagian organisasi untuk memberi pengaruh jangka panjang atau bahkan sebuat perubahan signifikan bagi organisasi di masa mendatang (Soekardi, 2007). Perubahan paradigma ini tidak lantas membuat auditor sebagai watchdog dilupakan, lebih dari itu peran auditor internal akan semakin luas dan meningkatkan kualitas tata kelola dan kualitas informasi yang dihasilkan. (Rani)

Daftar Pustaka

Mauliddyah, N., & Dwiatmanto, M. G. W. E. N. (2017). Analisis Peran Audit Internal Sebagai Penunjang Penerapan Good Corporate Governance (GCG) (Studi Pada PT. Krakatau Bandar Samudera (Kbs) Cilegon-Banten). Brawijaya University.

Soekardi, H. (2007). Arah Perkembangan Peran Auditor Internal. Jakarta: Yayasan Pendidikan Internal Audit.

Rahayu, S., Yudi, Y., & Rahayu, R. (2018). Strategi Penerapan Paradigma Baru dalam Peran Auditor Internal Organisasi Pemerintah. Journal of Applied Managerial Accounting2(2), 255-261.

Rahayu, & Rahayu,  S.  (2016). The Role of Internal Auditor Government to Realize the Clean Local Government.  Paper presented at the Malaysia Indonesia International Conference of Economics, Management and Accounting (MIICEMA) 2016, Jambi

Tugiman, H. (1997). Komite audit.

(RKH)